Tugas menganalisis makalah yang berjudul Gerakan Pemurnian Wahabi: Muhammad Bin Abdul Wahhab (1115-1206 / 1701-1793). Yang disusun oleh dosan pembimbing mata kuliah TPKI. Dianalisis dari segi / sisi isi, tulisan dan penuturan yang ditampilkan.
Dari segi / sisi isi:
Setelah mambaca dan menganalisis makalah yang berjudul:
GERAKAN PEMURNIAN WAHABI: MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ( 1115-1206 H / 1701-1793 M). Yang disusun oleh : Mulyawan S. Nugraha. NIM: 066.1076 (No. urut Absen : 23).
Dilihat dari segi / sisi isi secara umum, bacaan yang disajikan cukup menarik, dan lengkap dari segi penyajiannya. Namun, secara struktural makalah yang disusun tersebut tidak sesuai dengan acuan atau aturan yang semestinya disebut sebagai makalah.
Karena, berdasarkan pada referensi yang ada bahwa sebuah makalah / laporan akhir terdiri dari tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian teks, dan bagian akhir.
Di mulai dari pendahuluan, dalam bab pendahuluan seharusnya dibagi atau dipecah menjadi beberapa bagian yakni:
1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penilisan
4. dan seterunya…..
Pada bagian pendahuluan, penulis sebaiknya menyajikan latar belakang masalah dan alasan-alasan mengapa masalah yang diajukan itu menarik untuk diteliti. Kemudian, dapat mengungkapkan masalah-masalah yang muncul, yang dapat dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah dan harus merupakan kalimat tanya.
Melihat isi makalah secara keseluruhan, masih banyak tulisan-tulisan yang kurang tepat, disebabkan tidak diedit / dilakukan cek ulang (pemeriksaan) pada hasil dari makalah tersebut. Dan ditemukan adanya kata-kata asing yang bercampur dengan bahasa
Dari sisi / segi tulisan:
Apabila dilihat dari Karateristik Karangan Ilmiah Populer (Harry Firman), isi makalah tersebut sudah memenuhi salah satu poin dari karateristik karangan ilmiah populer. Diantaranya, Contoh pada tulisan yang menggunakan kalimat yang lebih kompleks dan relatif panjang serta penuh dengan istilah teknis. Misalnya, pada kalimat “Degenerasi dan dekadensi umat Islam dikala itu telah menimbulkan sistem politik yang sangat opresif, yang mengejawantah dalam bentuk kesultanan-kesultanan nepotis dan absolutis serta kehidupan sosial yang bertentangan dengan semangat egalitarian seperti diajarkan Islam”. (paragraf 1, bab Pendahuluan).
Makalah tersebut juga menyertakan kutipan, catatan kaki (footnotes) dan daftar pustaka agar materi yang ditulis dapat divalidasi. Sebagai pembuktian bahwa bahasan / makalah yang disajikan dapat dipercayai kebenarannya.
Dalam sistematika penulisannya, makalah tersebut logis dalam memaparkan atau menyampaikan isi dari materinya.
Pada bab penutup, penulis tidak memisahkan antara simpulan dan saran, akan tetapi bagian penutup dari makalah tersebut cukup membentuk impresi pembaca terhadap penjelasan atau persoalan yang diketengahkan.
Masih dalam segi tulisan, ada beberapa pengulangan kata yang tidak menggunakan strip (-), contoh pada kalimat “ faham tauhid telah dirusak oleh ajaran ajaran atau tarekat tarekat…..dst”. seharusnya pengulangan kata pada kata “ajaran dan tarekat” tersebut menggunakan strip (-) sesuai dengan kaidah EYD yang telah ditetapkan.
Segi / sisi penuturan yang disampaikan:
Penuturan kata dan bahasa yang disampaikan banyak mengandung istilah-istilah teknis dan serapan bahasa asing. Menurut saya sekalipun penulis makalah / artikel adalah seorang iptekwan, tetapi alangkah baiknya menghindari penggunaan terlalu banyak istilah-istilah teknis. Alasannya, tidak semua pembaca mempunyai tingkat pendidikan seperti penulis, hingga menyulitkan pembaca untuk dapat mengerti dan memahami isi dari makalah tersebut dengan cepat.
Dari segi penuturan, penulis menyajikan atau memberi penjelasan tambahan dengan sesuatu yang kompleks, dengan menyertakan gambar (penjelasan makalah hal 7,gambar peta) yang dapat membantu memperjelas dalam memehami maksud dari penuturan makalah yang disajikan.
Pada hal 3, ada salah satu paragraf yang menuturkan kalimat “ lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembagkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Dimana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan”.
Menurut saya penuturan kalimat diatas kurang efektif, dan kurang tepat apabila di gunakan dalam bentuk makalah, karena menurut ukuran atau aturannya penuturan yang digunakan dalam sebuah makalah lebih dipenuhi oleh tulisan verbal dan sedikit tebal, sehingga terlihat intelek dimata pembacanya.
Dan sebaiknya penuturan diatas dirubah menjadi “Kelengkapan yang telah beliau peroleh, kemudian beliau kembangkan melalui metode otodidak (belajar sendiri), dimana bimbingan seorang guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya dapat dikembangkan dan digali oleh yang bersangkutan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar