Problem Solving dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama dari Problem Solving.
1. Problem Solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi Problem Solving ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. Problem Solving tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui Problem Solving siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2. aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Problem Solving menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan penedekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu; sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Senin, 09 Januari 2012
Senin, 07 Maret 2011
PERJAMUAN JIWA ~ Kahlil Gibran
BANGUNLAH, Cintaku. Bangun!
Kerana jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah, kerana sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku.
Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku menjauh darimu.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, kerana takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku!
Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu.
Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku.
Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu.
Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Lebanon.
Bicaralah.
Tak ada yang akan mendengar selain diriku.
Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya.
Syurga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Lebanon, Cintaku.
Syurga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong kain, dihembus nafas kemari, dan mengelarnya di telapak kota, Cintaku.
Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah pohon-pohon kenari.
Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri mimpi, Cintaku.
Lelaki-lelaki longlai menggendong emas, dan tebing curam yang akan dilalui melemaskan lutut mereka.
Mata mereka mengantuk kerana dililit kesulitan dan ketakutan.
Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku.
Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah.
Jiwa para raja melintasi bukit-bukit. Fikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab.
Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, muncung-muncung nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan.
Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah Sodom yang menjijikkan, serta dosa-dosa Gomorah.
Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desirnya bertemu dengan alunan anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan lagu Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami.
Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelupur, ibunya mengeluh di atas kamar kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit.
Mimpi-mimpi kebimbangan melanda hati yang lemah.
Aku mendengar rintihan pahitnya.
Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar.
Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang.
Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit.
Seperti panah rahsia yang tajam, racun itu telah menembusi perasaan dan meracuni udara.
Tanpa kusedari matahari telah mengilaukan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap.
Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan kemenangan.
Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, loceng-loceng berdenting memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mula berdoa.
Dan dari gua-gua, gema-gema juga berdengung, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusyuknya.
Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya.
Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik lelalang.
Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi.
Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota.
Tirai telah diselak dari jendela dan pintu pun terbuka.
Mata yang penat dan wajah lesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya.
Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan.
Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, pusingan roda dan siulan angin.
Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin.
Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati.
Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar-debar kerana selalu merasa bimbang dan takut.
( puisi Gibran)
BANGUNLAH, Cintaku. Bangun!
Kerana jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah, kerana sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku.
Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku menjauh darimu.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, kerana takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku!
Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu.
Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku.
Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu.
Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Lebanon.
Bicaralah.
Tak ada yang akan mendengar selain diriku.
Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya.
Syurga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Lebanon, Cintaku.
Syurga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong kain, dihembus nafas kemari, dan mengelarnya di telapak kota, Cintaku.
Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah pohon-pohon kenari.
Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri mimpi, Cintaku.
Lelaki-lelaki longlai menggendong emas, dan tebing curam yang akan dilalui melemaskan lutut mereka.
Mata mereka mengantuk kerana dililit kesulitan dan ketakutan.
Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku.
Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah.
Jiwa para raja melintasi bukit-bukit. Fikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab.
Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, muncung-muncung nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan.
Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah Sodom yang menjijikkan, serta dosa-dosa Gomorah.
Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desirnya bertemu dengan alunan anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan lagu Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami.
Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelupur, ibunya mengeluh di atas kamar kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit.
Mimpi-mimpi kebimbangan melanda hati yang lemah.
Aku mendengar rintihan pahitnya.
Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar.
Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang.
Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit.
Seperti panah rahsia yang tajam, racun itu telah menembusi perasaan dan meracuni udara.
Tanpa kusedari matahari telah mengilaukan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap.
Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan kemenangan.
Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, loceng-loceng berdenting memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mula berdoa.
Dan dari gua-gua, gema-gema juga berdengung, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusyuknya.
Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya.
Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik lelalang.
Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi.
Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota.
Tirai telah diselak dari jendela dan pintu pun terbuka.
Mata yang penat dan wajah lesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya.
Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan.
Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, pusingan roda dan siulan angin.
Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin.
Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati.
Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar-debar kerana selalu merasa bimbang dan takut.
( puisi Gibran)
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
1. ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti. Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara obyek material dan obyek formal. Obyek formal merupakan obyek konkret yang disimak ilmu. Sedang obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. Yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.
2. ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. Dalam hal ini, Moh. Nazir, (1983:43) mengungkapkan bahwa metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilimiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Almack (1939) mengatakan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesutu interrelasi. Selanjutnya pada bagian lain Moh. Nazir mengemukakan beberapa kriteria metode ilmiah dalam perspektif penelitian kuantitatif, diantaranya: (a) berdasarkan fakta, (b) bebas dari prasangka, (c) menggunakan prinsip-prinsip analisa, (d) menggunakan hipotesa, (e) menggunakan ukuran obyektif dan menggunakan teknik kuantifikasi. Belakangan ini berkembang pula metode ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Nasution (1996:9-12) mengemukakan ciri-ciri metode ilimiah dalam penelitian kualitatif, diantaranya : (a) sumber data ialah situasi yang wajar atau natural setting, (b) peneliti sebagai instrumen penelitian, (c) sangat deskriptif, (d) mementingkan proses maupun produk, (e) mencari makna, (f) mengutamakan data langsung, (g) triangulasi, (h) menonjolkan rincian kontekstual, (h) subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti, (i) mengutama- kan perspektif emic, (j) verifikasi, (k) sampling yang purposif, (l) menggunakan audit trail, (m)partisipatipatif tanpa mengganggu, (n) mengadakan analisis sejak awal penelitian, (o) disain penelitian tampil dalam proses penelitian.
3. Pokok permasalahan(subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji. Mengenai focus of interest ini Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad menjelaskan bahwa ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka masalah masalah yang sederhana tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi (Husein Al-Kaff, Filsafat Ilmu,)
reff: Ahmad Sudrajat
1. ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti. Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara obyek material dan obyek formal. Obyek formal merupakan obyek konkret yang disimak ilmu. Sedang obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. Yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.
2. ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. Dalam hal ini, Moh. Nazir, (1983:43) mengungkapkan bahwa metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilimiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Almack (1939) mengatakan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesutu interrelasi. Selanjutnya pada bagian lain Moh. Nazir mengemukakan beberapa kriteria metode ilmiah dalam perspektif penelitian kuantitatif, diantaranya: (a) berdasarkan fakta, (b) bebas dari prasangka, (c) menggunakan prinsip-prinsip analisa, (d) menggunakan hipotesa, (e) menggunakan ukuran obyektif dan menggunakan teknik kuantifikasi. Belakangan ini berkembang pula metode ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Nasution (1996:9-12) mengemukakan ciri-ciri metode ilimiah dalam penelitian kualitatif, diantaranya : (a) sumber data ialah situasi yang wajar atau natural setting, (b) peneliti sebagai instrumen penelitian, (c) sangat deskriptif, (d) mementingkan proses maupun produk, (e) mencari makna, (f) mengutamakan data langsung, (g) triangulasi, (h) menonjolkan rincian kontekstual, (h) subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti, (i) mengutama- kan perspektif emic, (j) verifikasi, (k) sampling yang purposif, (l) menggunakan audit trail, (m)partisipatipatif tanpa mengganggu, (n) mengadakan analisis sejak awal penelitian, (o) disain penelitian tampil dalam proses penelitian.
3. Pokok permasalahan(subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji. Mengenai focus of interest ini Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad menjelaskan bahwa ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka masalah masalah yang sederhana tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi (Husein Al-Kaff, Filsafat Ilmu,)
reff: Ahmad Sudrajat
Jumat, 15 Januari 2010
Saroh Nur Muawanah_TUGAS MAKALAH TPKI, smstr 3 A
PERBANDINGAN TINGKAT PEMAHAMAN MATAKULIAH BAHASA ARAB ANTARA MAHASISWA LULUSAN MA DAN SMU DI STAI-SUKABUMI
MAKALAH
MAKALAH INI DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MANDIRA MATA KULIAH TEHNIK PENULISAN KARYA ILMIAH
Dosen pembimbing: Mulayawan S. Nugraha. S.Ag, M.Pd
Disusun Oleh:
Saroh Nur muawanah
Smtr: III A (PAI)
NIM: 2008.1086
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
SUKABUMI
Jln. Veteran 1 No. 36 Telp. (0266) 225464
Kota Sukabumi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmirrahim,
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Illahi Robbi, sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjunan kita Nabi Besar Muhammad SAW, karena berkat rakhmat dan inayah-Nya lah Penyusun dapat menyusun makalah ini.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini Penyusun menguraikan tentang :
“Perbandingan tingkat pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa lulusan MA dan SMU di STAI-Sukabumi”
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah (TPKI).
Segenap daya dan upaya penulis curahkan untuk menyelesaikan tugas makalah ini namun sebagai manusia/insan fana, tak lepas dari berbagai kesalahan dan kekhilapan, tentu saja penyusunan makalah ini mungkin banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik dari sesi redaksi maupun sesi kajian isi. Keterbatasan akan ilmu, wawasan dan kemampuan penulis, yang menjadikan semua itu. Berdasar itu saran dan kritik yang membangun kami nantikan demi menuju kesempurnaan makalah ini.
Makalah ini dapat diselesaikan tak lepas dari bantuan dosen pembimbing serta dari berbagai pihak, baik berupa bantuan moril maupun bantuan materil, secara langsung maupun tidak langsung. Maka penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada semua pihak, semoga bantuan yang diberikan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah SWT. Amiin.
Dengan segala kerendahan hati penulis persembahkan makalah kepada yang berwenang dengan harapan mendapatkan respon maupun koreksi, sehingga makalah ini dapat memenuhi tujuan yang sebagaimana penulis harapkan.
Sukabumi, April 2009
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar .................................................................................................. i
Daftar isi .............................................................................................................. ii
BAB I
Pendahuluan ......................................................................................................
1
A. Latar Belakang................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
C. Alasan memilih judul.......................................................................................
D. Tujuan penulisan..............................................................................................
BAB II
Perdandingan tingkat pemahaman matakuliah bahasa arab mahasiswa lulusan MA dan SMA di STAI-Sukabumi........................................................
A. Pemahaman
1. Pengertian pemahaman.......................................................................
2. Faktor yang mempengaruhi pemahaman............................................
B. Pemahaman mahasiswa lulusan MA pada matakuliah bahasa arab..........
C. Pemahaman mahasiswa lulusan SMU pada matakuliah bahasa arab.......
D. Perbadingan tingkat pemahaman pada matakuliah B.Arab antara lulusan MA dan SMA...............................................................................
BAB III
Penutup............................................................................................................
A. Simpulan ...................................................................................................
B. Saran .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan pendidikan di jaman sekarang ini sangatlah penting dan bersaing, banyak orang berlomba-lomba demi mendapatkan sebuah pendidikan dan demi mencapai kesejahteraan hidup.
Dengan melihat bertapa pentingnya sebuah pendidikan maka semua orang berkeinginan untuk mendapatkan pendidikan, dari hasil survey di sebuah sekolah tinggi agama islam, jurusan pendidikan agama islam, banyak ditemukan mahasiswa yang basik atau dasar pendidikan nya tidak satu jurasan, yakni tidak di batasi hanya dari lulusan madrasah aliah saja melainkan dari sekolah menengah atas pun ada.
Adapun Tujuan pendidikan secara umum adalah mengantarkan seorang individu baik itu anak-anak hingga orang dewasa sekalipun ke arah kedewasaan jasmani dan rohani, sehingga ia cakap mengerjakan sesuatu pekerjaan. Begitu juga dengan tujuan pendidikan sebagaimana yang dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang menyatakan : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi manusia agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung.”
Sekolah tinggi agama Islam, selain matakuliah umum juga terdapat matakuliah tentang keagamaan., seperti; Fiqh, tauhid, hadist, bahasa arab dan lain-lain. Bagi mahasiswa lulusan MA mungkin matakuliah bahasa arab bukan merupakan hal yang baru karena mereka pernah mempelajarinya, tapi bagi mahasiswa yang baru itu merupakan hal yang baru karena tidak pernah mempelajarinya.
Melihat penomena di atas saya tergugah dan merasa ingin tahu perbandingan tingkat pemahan mahasiswa atas perbedaan tersebut.
Maka dalam kesempatan kali ini saya mengambil sebuah bahasan yang berjudul :
Perbandingan tingkat pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa lulusan MA dan SMU di STAI.
Penelitian ini beranjak dari latar belakang bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa internasional dan alat untuk menggali ilmu pengetahuan Islam, maka sudah sepatutnya dimiliki oleh siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Arab, siswa hendaknya memiliki minat yang baik, karena dengan minat tersebut akan muncul perhatian dan kegairahan untuk mengikuti pelajaran secara baik. Penelitian ini membahas tentang bagaimana minat siswa terhadap Mata Pelajaran Bahasa Arab dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi minat siswa terhadap pelajaran Bahasa Arab.
Pemahaman adalah tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini ia tidak hanya hapal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan. Di dalam ranah kognitif menunjukkan tingkatan-tingkatan kemampuan yang dicapai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dapat dikatakan bahwa pemahaman tingkatannya lebih tinggi dari sekedar pengetahuan. Definisi pemahaman menurut Anas Sudijono adalah "kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan".
Agar tidak terjadi kesalahan persepsi dalam menafsirkan judul penelitian di atas, maka perlu penulis tegaskan beberapa istilah sebagai berikut :
1. menurut kamus bahasa Indonesia pengertian pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan: ~ bahasa sumber dan bahasa sasaran sangat penting bagi penerjemah; se•pa•ham n 1 satu paham; sependapat; sepengertian: dl hal ini, ia ~ dng saya; 2 satu keyakinan; satu aliran: anggota perkumpulan itu terdiri atas orang-orang yg ~
2. Bahasa Arab yang dimaksud dalam penelitian ini adalah salah satu matakuliah Pendidikan Agama Islam yang diajarjkan pada Sekolah Tinggi Agama Islam yang dimaksud dengan judul makalah ini adalah suatu penelitian tentang keadaan pemahaman mahasiswa, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap pelajaran Bahasa Arab pada mahasiswa lulusan MA dan SMU.
B. Rumusan masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang penulis kemukakan tersebut. maka yang menjadi permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah :
A. Pemahaman
1. Apakah pengertian pemahaman?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi pada pemahaman?
B. Sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah Bahasa Arab pada mahasiswa lulusan madrasah aliyah (MA)?
C. Sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah Bahasa Arab pada mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU)?
D. Bagaimana perbandingan tingkat pemahaman pada matakuliah bahasa arab antara lulusan MA dan SMU?
C. Alasan Memilih Judul
Dalam penetapan judul di atas, penulis dilatar belakangi oleh beberapa alasan sebagai berikut :
1. mengingat betapa pentingnya pelajaran Bahasa Arab, karena selain Bahasa Arab sebagai bahasa internasional, juga ilmu-ilmu agama banyak ditulis ke dalam Bahasa Arab, agar kita bisa menggalinya untuk keselamatan kehidupan di dunia dan di akhirat, oleh karena itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguhdari berbagai pihak baik dari guru, orang tua dan siswa itu sendiri.
2. Mengingat peranan minat siswa dalam belajar ikut menentukan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, termasuk pengajaran Bahasa Arab.
3. Sepengetahuan penulis masalah ini belum ada yang meneliti khususnya pada Sekolah Tinggi Agama Islam.
D. Tujuan penulisan
1. mengetahui pengertian pemahaman.
2. mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa lulusan MA dan SMA pada matakuliah bahasa arab.
3. mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman mahasiswa lulusan MA dan SMU pada matakuliah bahasa arab.
4. untuk mengetahui perbandingan tingkat pemahaman mahasiswa lulusan MA dan SMA pada matakuliah bahasa arab.
BAB II
PERBANDINGAN TINGKAT PEMAHAMAN MATAKULIAH BAHASA ARAB PADA MAHASISWA LULUSAN MA DAN SMA DI STAI-SUKABUMI
A. Pemahaman
1. Pengertian pemahaman
Pemahaman merupakan proses berpikir dan belajar. Dikatakan demikian karena untuk menuju ke arah pemahaman perlu diikuti dengan belajar dan berpikir. Pemahaman merupakan proses, perbuatan dan cara memahami. Pemahaman adalah tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini ia tidak hanya hapal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan.
Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam proses belajar mengajar. Tanpa minat yang tinggi, tujuan pengajaran tidak akan berhasil dengan baik sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Oleh sebab itu minat siswa harus ditingkatkan dalam rangka menopang keberhasilan proses belajar mengajar tersebut, termasuk juga pengajaran Bahasa Arab.
Pengajaran Bahasa Arab bertujuan membimbing siswa agar mereka dapat menulis, membaca dan mengerti Bahasa Arab baik dari segi tata bahasanya maupun langsung mengkomunikasikannya, karena itu untuk mencapai proses pengajaran Bahasa Arab yang diinginkan, salah satu faktornya adalah minat siswa itu sendiri.
Di dalam ranah kognitif menunjukkan tingkatan-tingkatan kemampuan yang dicapai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dapat dikatakan bahwa pemahaman tingkatannya lebih tinggi dari sekedar pengetahuan. Definisi pemahaman menurut Anas Sudijono adalah "kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan".
Menurut Saifuddin Azwar, dengan memahami berarti sanggup menjelaskan, mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, meramalkan, dan membedakan. Sedangkan menurut W. S. Winkel, yang dimaksud dengan pemahaman adalah : Mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti dalam grafik. Dari berbagai pendapat di atas, indikator pemahaman pada dasarnya sama, yaitu dengan memahami sesuatu berarti seseorang dapat mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, memperluas, menyimpulkan, menganalisis, memberi contoh, menuliskan kembali, mengklasifikasikan, dan mengikhtisarkan. Indikator tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengandung makna lebih luas atau lebih dalam dari pengetahuan. Dengan pengetahuan, seseorang belum tentu memahami sesuatu yang dimaksud secara mendalam, hanya sekedar mengetahui tanpa bisa menangkap makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari. Sedangkan dengan pemahaman, seseorang tidak hanya bisa menghapal sesuatu yang dipelajari, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk menangkap makna dari sesuatu yang dipelajari juga mampu memahami konsep dari pelajaran tersebut.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman
Menurut Winarno Surahmad yang dinamakan dengan faktor pada pemahaman adalah sebagai berikut :
1. Ada tujuan yang jelas akan dicapai
2. Ada bahan yang akan menjadi proses
3. Ada pelajar / siswa yang aktif mengikuti
4. Ada metode tertentu untuk mencapai tujuan
5. Ada gurunya yang akan melaksanakan
6. Dan bahwa proses emahaman interaksi tersebut berlangsung dalam ikatan situasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemahaman akan mudah mencapai tujuan apabila semua faktor itu saling berperan dan saling muenunjang. Faktor tujuan misalnya erat kaitannya dengan faktor anak didik, di mana tujuan tidak ditunjang oleh bahan sebagai penjabaran dari tujuan itu sendiri, oleh karena itu semua faktor di atas tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling ketergantungan dan saling tunjang menunjang.
Faktor - faktor tersebut dapat penulis uraikan satu-persatu sebagai berikut :
1. Faktor Tujuan
Tujuan pendidikan sangat penting ditentukan terlebih dahulu sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Sebab tujuan adalah merupakan pedoman yang menunjukkan arah kemana proses pendidikan itu dijalankan. Tujuan yang jelas akan mempermudah berbagai pihak berbagai pihak yang terkait dalam proses belajar mengajar untuk menentukan arah dan langkah yang tepat dan sesuai dengan maksud yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebaliknya tujuan yang tidak jelas juga akan berakibat kaburnya arah yang dituju dan bahkan akan menyulitkan dalam menentukan sara dan fasilitas yang akan dipergunakan.
2. Faktor Bahan / Materi
Setelah diketahui tujuan pendidikan itu, maka barulah ditetapkan materi yang bagaimana yang dapat mengantarkan kita ke arah tujuan, namun haruslah diperhatikan di dalam pemilihan bahan yang akan diberikan haruslah memperhatikan tentang perkembangan dan pertumbuhan yang akan menerima pengajaran tersebut. Kedua hal ini memang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Karena bahan yang disajikan lebih berkesan kepada anak didik apabila didasarkan pada prinsif paedagogik dan psikologis. Dengan demikian memahami pemahaman diusahakan harus menguasai materi yang masih belum sesuai dengan perkembangan kejiwaan materi yang masih belum sesuai dengan perkembangan kejiwaan anak didik sehingga menimbulkan kesulitan bagi anak didik untuk menerimanya. Tetapi sebaliknya pilihlah bahan/materi yang sesuai dengan tingkat kecerdasan anak didik kita sendiri. Sehingga dengan mudah mereka memahami dan mencerna bahan yang sedang kita sampaikan. Begitu pula halnya dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai dalam proses pendidikan tersebut. Juga perlu mempertimbangkan tingkat perkembangan dan kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak, agar tujuan yang akan dicapai tidak terlalu muluk dan dapat dicapai oleh anak. Salah satu hal yang ereat hubungannya dengan materi/bahan pelajaran ini adalah pengetahuan dasar anak yang mampu memberikan sambutan terhadap informasi yang datang kemudian. Anak yang sekolah dengan latar belakang pengalaman yang berbeda beda sesuai dengan kemajuan dan perkembangan peradaban dimana ia hidup dan dibesarkan. Pengalaman adalah modal dasar untuk menerima pengetahuan baru. Anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sudah maju, dia telah mengetahui banyak hal.
3. Faktor Anak Didik
Anak didik merupakan subjek pendidikan dan sasaran pendidikan, apabila faktor anak didik ini harus dipertimbangkan sebagai faktor utama dalam proses pemahaman, maka hal ini harus berdasarkan pertimbangan dan kematangan anak tersebut. Guru / pendidik harus mengetahui secara tepat tersebut tingkat perkembangan setiap anak didik yang walaupun dilihat dari segi usia dan perkembangan jasmaninya hampir sama, namun perkembangan kejiwaan dan tingkat kecerdasannya tentu berbeda. Peranan minat ini dalam proses belajar mengajar tidak diragukan lagi, karena perhatian anak dalam mengikuti pelajaran yang diberikan banyak ditentukan oleh minat siswa itu sendiri dalam mengikuti pelajaran yang diberikan. Anak yang kurang perhatiannya terhadap pelajaran, terkadang bermula dari minat siswa itu sendiri terhadap pelajaran tersebut. Anak yang tidak berminat terhadap pelajaran yang diberikan digambarkan sebagai pedati yang didorong untuk menaiki sebuah gunung dengan keadaan terkunci. Mereka tidak mungkin dipaksakan dan difungsikan sebagaimana mestinya, kalau mereka sendiri tidak mempunyai minat terhadap pelajaran itu. Di sini sebenarnya peranan guru harus mampu menumbuhkan kegairahan dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan, sehingga pelajaran yang disajikan kepada anak akan mudah mereka terima walaupun dinilai agak sukar.
Dalam kegiatan belajar mengajar yang pada akhirnya siswa diharapkan dapat memahami maknanya dan untuk mencapai hal itu dalam belajar diperlukan pemahaman. Pemahaman disini diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran. Dengan adanya pemahaman terhadap materi pelajaran, membawa siswa pada dasar-dasar pengertian umum dan selanjutnya akan memahami pengertian-pengertian bagiannya. Dalam belajar, untuk pemahaman sangatlah penting, karena pemahaman seseorang akan kuat ingatannya terhadap materi materi pelajaran, selain itu ia akan mengambil imajinasi dan pikiran yang tenang.
4. Faktor Metode
Metode adalah suatu cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk pencapaian suatu tujuan. Di dalam penilaian metode ini erat sekali hubungannya dengan bahan / materi yang akan diberikan, serta anak didik yang akan menerima materi pengajaran tersebut, makin tepat metode yang digunakan, maka semakin efektif pula pencapaian tujuan pendidikan yang akan dicapai. Namun untuk menetapkan suatu metode yang baik memang sulit, tetapi setiap guru / pendidik hendaknya dapat mengetahui beberapa macam metode yang sering digunakan dan beberapa petunjuk untuk penggunaannya. Tanpa pengetahuan yang luas akan metode dan cara menggunakannya, tentunya tidak banyak diharapkan hasil yang akan dicapainya.
Dengan jalan ini seseorang guru dapat menentukan metode apa yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas yang akan di hadapi seorang guru. Disamping situasi kelas yang ada, juga banyak tergantung kepada materi yang akan disampaikan oleh guru yang bersangkutan, materi yang lebih banyak memerlukan praktek dan pencontohan dari guru, tentu metode demonstrasi yang lebih tepat digunakan. Jadi berhasil tidaknya metode pendidikan yang diusahakan tergantung kepada beberapa faktor yang antara lain factor metode / cara menyampaikannya. Karena sering kali kurang berhasilnya proses belajar mengajar, bukan karena bahan / materi pelajaran yang sudah usang dan ketinggalan, tetapi kurang tepatnya metode yang dipergunakan guru dalam menyampaikan pelajaran, begitu sebaliknya sering kali bahan yang disampaikan terlalu bermakna dan mendalam, tetapi karena metode yang dipergunakan guru mampu membangkitkan kegairahan belajar siswa, akhirnya pelajaran yang kurang mendalam dan bermakna tadi dapat diterima oleh anak dengan sebaik-baiknya. Hal ini bukan berarti penulis terlalu mengagungkan metode tanpa memperhatikan aspek lainnya, tetapi bagaimanapun penguasaan akan teknik-teknik untuk menyampaikan materi akan membantu suksesnya pencapaian tujuan yang akan dicapai oleh guru yang bersangkutan. Kenyataan menunjukkan bahwa sering kali anak yang membenci pelajaran, bukan disebabkan oleh materi pelajaran itu, anak didik tidak terlalu tertarik terhadap pelajaran yang disuguhkan kepadanya. Akibat kelirunya metode yang dipilih sering kali membawa akibat fatal akan pelajaran yang sedang berlangsung. Apabila tujuan yang akan dicapai sedangkan kehadiran guru tersebut sering merupakan penyiksaan bathin bagi siswa yang akan menerima pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu selain penguasan materi yang akan disampaikan juga keterampilan guru untuk menseleksi metode yang diketengahkan.
5. Faktor Pendidik
Guru adalah seorang yang bertanggung jawab atas sukses tidaknya pelaksanaan pendidikan yang sedang dilaksanakan. Karena gurulah yang akan memberikan warna kehidupan anak didik dan ilmu pengetahuan yang ia berikan. Tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh tingkah laku dan kepribadian guru, karena apa yang dilakukan oleh guru akan dijadikan contoh oleh anak didik. Segala tingkah laku yang diperhatikannya sedikit banyaknya akan tercermin kepada anak, karena apa yang dikatakannya akan dibuktikan oleh anak dengan melihat tingkah laku yang dilakukan oleh guru itu. Karena kurang terkontrolnya tingkah laku guru ini sering kali membuat anak didik menjadi bingung dan prustasi, karena mereka tidak menemukan guru yang dapat dan patut mereka tiru dan \ teladani. Apabila seorang guru terutama guru agama tidak mampu melaksanakan sesuatu yang telah mereka ucapkan padahal ia seorang yang berilmu Tugas guru agama memang berat dan memerlukan kerja keras demi suksesnya pelaksanaan pendidikan agama. Dia bukan hanya sekadar mediatur yang menyamapaikan ilmu pengetahuan semata-mata, tetapi hendaknya ia mampu memberikan contoh dan teladan yang baik kepada anak didiknya. Oleh karena itu untuk suksesnya seorang guru melaksanakan tugasnya, dia bukan hanya sekedar menguasai ilmu yang akan disampaikannya, tetapi juga terampil dalam mengajar dan memiliki sifat kepribadian yang tinggi. Guru adalah bukan saja dinilai dari keberhasilan tugasnya di sekolah, tetapi juga dinilai bagaimana tindakannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak, karena orang tua menganggap bahwa orang yang berada di atas itu lebih baik.
Dengan demikian guru / pendidik hendaknya harus benar-benar seorang muslim sejati di mana segala tingkah lakunya harus mencerminkan seorang muslim yang berkepribadian tinggi. Seorang guru agama yang sadar akan tugas yang berat itu tentu berusaha semaksimal mungkin membina diri dan meningkatkan kualitas pribadi, sehingga dengan usaha yang dilakukan dia akan berhasil membina umat menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam pembentukan kepribadian dimana mereka tidak banyak dituntut unsur pembinaan kepribadian. Selain itu dalam menjalankan tugasnya seorang guru harus cakap dan terampil, agar pendidikan agama dapat mencapai hasil yang diinginkan dan tidak akan mengalami kegagalan.
6. Faktor Situasi
“Situasi adalah keadaan yang memungkinkan pendidikan berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan.” Sangatlah sulit bagi kita untuk mencapai suatu tujuan pendidikan itu apabila situasi atau lingkungan yang ada di sekitar anak kurang menunjang akan terlaksananya penyelenggaraan pendidikan agama. Karena itu sangatbesar pengaruhnya di dalam perkembangan kepribadian anak, oleh karena itu lingkungan ini dianggap sebagai pendidik yang bertanggung jawab terhadap suksesnya pelaksanaan pendidikan. Karena begitu besar pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian anak dan lingkungan akan memberikan warna tertentu kepada anak. Seringkali sekolah gagal dalam melaksanakan tugas mendidik anakanak, karena tidak didukung oleh lingkungan anak itu sendiri. Pendidikan yang diterima anak lebih tinggi nilainya, bila didukung atau ditunjang oleh faktor lingkungan. Tetapi sebalinya pendidikan agama hampir tak berarti apabila lingkungan anak mengarah sikap negatif, bebas bergaul di dalam masyarakat. Pelaksanaan pendidikan yang hanya di lingkungan sekolah saja dengan waktu yang relatif singkat, sedang anak didik lebih banyak bergaul serta hidup dalam masyarakat. Di sini kiranya orang tua mempunyai tanggung jawab yang cukup besar untuk mengawasi, membimbing dan mengarahkan anak dalam rangka mensukseskan pelaksanaan pendidikan agama. Oleh karena itu guru hendaklah menjalin kerja sama yang harmonis dengan orng tua di rumah. Dengan demikian segala sesuatu kesulitan yang dialami di sekolah dalam menjalankan missinya akan semakin mudah diperbaiki dan ditingkatkan secara bersama-sama dengan orang tua murid. Tetapi kenyataan yang ada memang jauh berbeda dari apa yang diharapkan oleh sekolah, orang tua dengan berbagai alasan tidak berkesempatan menjalin hubungan dengan guru di sekolah juga merupakan problem yang sulit untuk dicapai dan diatasi. Karena sementara ini pertemuan antara orang tua dengan guru di sekolah hanya sekali setahun, yaitu saat acara kenaikan kelas dan penyerahan buku raport murid dan inipun terkadang orang tua tidak berkesempatan untuk menghadirinya. Ketidak harmonisan hubungan antara sekolah dengan rumah tangga disamping juga disebabkan oleh faktor kesempatan seperti dikemukakan di atas, juga disebabkan oleh latar belakang orang tua itu sendiri, karena pendidikan yang rendah biasanya bergandengan dengan keterbatasan dalam menerima informasi, kurang tanggapnya dengan keadaan dan pola pikir yang masih tradisional dan terkebelakang. Dengan demikian akan lahirlah pemikiran yang kurang menunjang bahkan menghambat kepada kelancaran pelaksanaan pendidikan anak. Orang tua yang berpendidikan rendah terkadang mempunyai tanggapan bahwa sekolah hanya tempat titipan anak-anak mereka, di saat orang tua sibuk dalam pekerjaan. Atau boleh jadi sekolah adalah merupakan tumpuan harapan dalam rangka mencerdaskan atau mendidik anak-anak mereka sehingga dengan dimasukkannya anaknya ke sekolah, mereka menganggap tugas mereka sudah selesai untuk mendidik anakanaknya. Di sekolah anak akan mendapatkan segala-galanya dalam rangka pembentukan kepribadiannya. Sehingga apabila anaknya tidak berhasil dididik sering kali kesalahan itu dilontarkan kepada sekolah dengan tuduhan bahwa sekolah tidak berhasil mendidik anak-anak mereka.
B. Pemahaman mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah (MA) terhadap matakuliah bahasa arab
Pendidikan Islam lazimnya diartikan secara berbeda dengan pendidikan pada umumnya, sehingga ada pendidikan keagamaan termasuk madrasah Islam dan ada pendidikan umum. Atas dasar pembedaan itu kemudian muncul dikotomi antara lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan keagamaan (Islam). Lebih jauh, orang juga membedakan antara pelajaran agama dengan pelajaran (umum) lainnya. Disebut sebagai pelajaran agama jika diajarkan tentang tauhid/aqidah, fiqh, akhlak, tarikh dan Bahasa Arab.
Oleh karena itu tingkat pemahaman mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah (MA) lebih menonjol di bandingkan dengan mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Berdasarkan hasil diskusi saya dengan beberapa mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah, bahwasanya mereka tidak mengalami kesulitan terlalu banyak karena mereka sudah mempunyai dasar atau basik sejak mereka menjalani pendidikan di Madrasah Aliyah.
Mereka hanya tinggal memperdalam dan mengkaji ulang materi dari matakuliah bahasa arab tersebut. Karena menurut mereka pelajaran yang dipelajari di Madrasah Aliyah tidak jauh berbeda dengan pelajaran yang di ajarkan di Sekolah tinggi Agama Islam, hanya ada penekanan pada salah satu poin saja. Rata-rata nilai yang mereka peroleh antara atau bekisar antara tujuh (7) hingga delapan (8). Sugguh nilai yang cukup memuaskan.
C. Pemahaman mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) terhadap matakuliah bahasa arab
Hakikat pendidikan adalah usaha secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar baik dalam pendidikan formal dan non formal. Jadi dengan kata lain pendidikan pada hakikatnya adalah ikhtiar manusia supaya berkembang sampai kepada titik yang dicapai sesuai dengan tujuan yang di cita-citakan.
Tentunya ada pertanyaan mendasar kenapa siswa SMU memilih perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan bidang yang telah ditentukan, melainkan mereka memilih perguruan tinggi atau universitas yang jauh dari kurikulum atau ajaran yang biasa mereka pelajari di SMU (Sekolah Menengah umum).
Melihat dari pengertian, tujuan, dan hakikat pendidikan adalah bahwa setiap individu memiliki kebebasan dalam menjalani dan menentukan hidupnya. Jadi jelas dikatakan bahwa menuntut ilmu tidaklah harus sesuai dengan yang telah dijalani sebelumnya tapi menggali terus ilmu sesuai kemampuan dan tujuan yang akan di capai nantinya.
Berdasarkan survey dan hasil diskusi dengan beberapa mahasiswa lulusan SMU, tentang pemahaman mereka terhadap pelajaran atau matakuliah bahasa arab ini adalah:
1. Pada dasarnya mereka memiliki kesulitan dalam menterjemahkan isi dari materi pelajaran bahasa arab tersebut, karena mahasiswa lulusan SMU tidak ada dasar atau basik dalam pelajaran atau matakuliah bahasa arab.
2. Mahasiswa lulusan SMU tidak mengerti ketika menerima pelajaran tersebut.
3. mahasiswa lulusan SMU tidak dapat mengerjakan tugas tanpa ada bantuan dari dosen atau rekan yang paham pada matakuliah bahasa arab tersebut.
Dengan melihat kesulitan-kesulitan yang di hadapi maka sebagai mahasiswa kita harus berpikir, berkerjakeras dan mencari solusi demi tercapainya tujuan dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi tersebut. Dilihat dilapangan kebanyakan mahasiswa lulusan sekolah umum mencari jam tambahan atau prifat dengan teman atau dosen pembimbing. Melihat dari segi tingkat pemahaman antara mahasiswa lulusan MA dan SMU sangat berbeda jauh, contohnya dari segi pencapaian nilai yang di peroleh, kebanyakan mahasiswa lulusan SMU hanya mendapatkan nilai bekisar antara enam (6) sampai tujuh (7) nilai yang cukup. Tidak sedikit pula yang mendapatkan nilai kurang dari cukup.
D. Perbandingan tingkat pemahaman pada matakuliah bahasa arab antara siswa lulusan lulusan MA danSMU.
Berdasarkan hasil survey di lapangan dari dua puluh orang mahasiswa dari masing-masing lulusan MA dan SMU tentang tingkat pemahaman matakuliah dapat di hasilkan sebagai berikut:
Dilihat dari perolehan nilai semester atau per enam bulan, yang memper oleh nilai A-B.
Tabel:
Hasil tinjauan Persentase Nilai A-B
Mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah
(yang dibarengi dengan pesantren)
80%
Mahasiswa Madrasah Aliyah
(tidak di berengi pesantren)
60%
Mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum.
( yang dibarengi dengan pesantren)
70%
Mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum.
(yang tidak di barengi pesantren)
40%
Dengan melihat tabel di atas bahwasannya mahasiswa yang lebih unggul tingkat pemahaman pada matakuliah bahasa arab ini jelas terlihat pada mahasiswa lulusan Madrsah Aliyah yang di barengi dengan pesantren. Karena mereka mengkaji lebih dalam dari materi-materi bahasa arab tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uaraian di atas dapat di simpulkan bahwa Pendidikan adalah salah satu usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan cara ini setiap manusia diharapkan dapat menyerap ilmu pengetahuan, keterampilan dan keteladanan yang positif baik di lembaga pendidikan formal maupun non formal. Sasaran yang diharapkan agar manusia Indonesia menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan punya wawasan yang luas untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Karena sesui dengan Undang-undang pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut :
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban manusia yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandir dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Ilmu pengetahuan itu pada dasarnya ada dua macam, yaitu ilmu pengetahuan umumdan ilmu pengetahuan agama. Orang yang berilmu pengetahuan diangkat derajatnya oleh Allah SWT, khususnya orang yang berilmu pengetahuan agama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an surah Al Mujadalah ayat 11 sebagai berikut :
Aryinya:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam dunia pendidikan melihat realita atau penomena yang ada bahwa setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan, di Sekolah Tinggi Agama Islam terdapat matakuliah bahasa arab dan hal tersebut sudah merupakan bagian dari kurikulum pendidikan/ tarbiyah. Perbandingan dan persaingan anatara mahasiswa sangat jelas terjadi, karena Sekolah Tinggi agama Islam khususnya di kota Sukabumi menerima mahasiswa nya dari berbagai bentuk jurasan pendidikan. Dari semua kejadian tersebut dapat di ambil hikmah bahwa masyarakat sudah menyadari akan pentingnya pendidikan demi membangun sebuah sumberdaya manusia yang layak dan siap untuk menjalani persaingan dalam pendidikan.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini sangatlah penting mengetahui matakuliah bahasa arab yang kali ini dipusatkan pada perbandingan tingkat pemahaman pada mata kuliah bahas arab tersebut, Dalam makalah ini hanya sedikit yang disajikan tentang pemahaman matakuliah bahasa arab, maka dari itu diharapkan kepada pembaca untuk lebih memperdalam lagi materi ini. Dan semoga makalah ini menjadi motivasi untuk lebih memperdalamnya lagi. Melihat hasil penelitian yang dilakukan penulis, pada akhirnya penulis ingin memberikan saran yang mudah-mudahan dapat diterima oleh semua pihak yang terkait sebagai berikut :
Kepada mahasiswa, hendaklah selalu belajar, terutama pada matakuliahbahasa arab yang memang sudah menjadi kewajiban sebagai mahasiswa STAI. Walaupun belum memahami secara sempurna mengenai matakuliah tersebut, harus tetap berusaha belajar dan belajar lebih giat lagi, karena yakinlah di setiap ilmu yang diterima pasti akan mendapatkan berkahnya.
DAFTAR PUSTAKA
• WJS. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka
Jakarta.
• HC. Witherington, Psikologi Pendidikan, Terjemahan M. Bukhari, Penerbit
Aksara Baru, Jakarta.
• Ananda Santoso, A.R. Alhanif, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,
Penerbit Alumni, Surabaya.
• Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, PT. Renika
Cipta, Jakarta, 1995.
• Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta, 1987.
http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com
http://www.uin.ac. id/ index.=com
MAKALAH
MAKALAH INI DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MANDIRA MATA KULIAH TEHNIK PENULISAN KARYA ILMIAH
Dosen pembimbing: Mulayawan S. Nugraha. S.Ag, M.Pd
Disusun Oleh:
Saroh Nur muawanah
Smtr: III A (PAI)
NIM: 2008.1086
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
SUKABUMI
Jln. Veteran 1 No. 36 Telp. (0266) 225464
Kota Sukabumi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmirrahim,
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Illahi Robbi, sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjunan kita Nabi Besar Muhammad SAW, karena berkat rakhmat dan inayah-Nya lah Penyusun dapat menyusun makalah ini.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini Penyusun menguraikan tentang :
“Perbandingan tingkat pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa lulusan MA dan SMU di STAI-Sukabumi”
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah (TPKI).
Segenap daya dan upaya penulis curahkan untuk menyelesaikan tugas makalah ini namun sebagai manusia/insan fana, tak lepas dari berbagai kesalahan dan kekhilapan, tentu saja penyusunan makalah ini mungkin banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik dari sesi redaksi maupun sesi kajian isi. Keterbatasan akan ilmu, wawasan dan kemampuan penulis, yang menjadikan semua itu. Berdasar itu saran dan kritik yang membangun kami nantikan demi menuju kesempurnaan makalah ini.
Makalah ini dapat diselesaikan tak lepas dari bantuan dosen pembimbing serta dari berbagai pihak, baik berupa bantuan moril maupun bantuan materil, secara langsung maupun tidak langsung. Maka penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada semua pihak, semoga bantuan yang diberikan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah SWT. Amiin.
Dengan segala kerendahan hati penulis persembahkan makalah kepada yang berwenang dengan harapan mendapatkan respon maupun koreksi, sehingga makalah ini dapat memenuhi tujuan yang sebagaimana penulis harapkan.
Sukabumi, April 2009
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar .................................................................................................. i
Daftar isi .............................................................................................................. ii
BAB I
Pendahuluan ......................................................................................................
1
A. Latar Belakang................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
C. Alasan memilih judul.......................................................................................
D. Tujuan penulisan..............................................................................................
BAB II
Perdandingan tingkat pemahaman matakuliah bahasa arab mahasiswa lulusan MA dan SMA di STAI-Sukabumi........................................................
A. Pemahaman
1. Pengertian pemahaman.......................................................................
2. Faktor yang mempengaruhi pemahaman............................................
B. Pemahaman mahasiswa lulusan MA pada matakuliah bahasa arab..........
C. Pemahaman mahasiswa lulusan SMU pada matakuliah bahasa arab.......
D. Perbadingan tingkat pemahaman pada matakuliah B.Arab antara lulusan MA dan SMA...............................................................................
BAB III
Penutup............................................................................................................
A. Simpulan ...................................................................................................
B. Saran .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan pendidikan di jaman sekarang ini sangatlah penting dan bersaing, banyak orang berlomba-lomba demi mendapatkan sebuah pendidikan dan demi mencapai kesejahteraan hidup.
Dengan melihat bertapa pentingnya sebuah pendidikan maka semua orang berkeinginan untuk mendapatkan pendidikan, dari hasil survey di sebuah sekolah tinggi agama islam, jurusan pendidikan agama islam, banyak ditemukan mahasiswa yang basik atau dasar pendidikan nya tidak satu jurasan, yakni tidak di batasi hanya dari lulusan madrasah aliah saja melainkan dari sekolah menengah atas pun ada.
Adapun Tujuan pendidikan secara umum adalah mengantarkan seorang individu baik itu anak-anak hingga orang dewasa sekalipun ke arah kedewasaan jasmani dan rohani, sehingga ia cakap mengerjakan sesuatu pekerjaan. Begitu juga dengan tujuan pendidikan sebagaimana yang dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang menyatakan : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi manusia agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung.”
Sekolah tinggi agama Islam, selain matakuliah umum juga terdapat matakuliah tentang keagamaan., seperti; Fiqh, tauhid, hadist, bahasa arab dan lain-lain. Bagi mahasiswa lulusan MA mungkin matakuliah bahasa arab bukan merupakan hal yang baru karena mereka pernah mempelajarinya, tapi bagi mahasiswa yang baru itu merupakan hal yang baru karena tidak pernah mempelajarinya.
Melihat penomena di atas saya tergugah dan merasa ingin tahu perbandingan tingkat pemahan mahasiswa atas perbedaan tersebut.
Maka dalam kesempatan kali ini saya mengambil sebuah bahasan yang berjudul :
Perbandingan tingkat pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa lulusan MA dan SMU di STAI.
Penelitian ini beranjak dari latar belakang bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa internasional dan alat untuk menggali ilmu pengetahuan Islam, maka sudah sepatutnya dimiliki oleh siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Arab, siswa hendaknya memiliki minat yang baik, karena dengan minat tersebut akan muncul perhatian dan kegairahan untuk mengikuti pelajaran secara baik. Penelitian ini membahas tentang bagaimana minat siswa terhadap Mata Pelajaran Bahasa Arab dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi minat siswa terhadap pelajaran Bahasa Arab.
Pemahaman adalah tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini ia tidak hanya hapal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan. Di dalam ranah kognitif menunjukkan tingkatan-tingkatan kemampuan yang dicapai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dapat dikatakan bahwa pemahaman tingkatannya lebih tinggi dari sekedar pengetahuan. Definisi pemahaman menurut Anas Sudijono adalah "kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan".
Agar tidak terjadi kesalahan persepsi dalam menafsirkan judul penelitian di atas, maka perlu penulis tegaskan beberapa istilah sebagai berikut :
1. menurut kamus bahasa Indonesia pengertian pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan: ~ bahasa sumber dan bahasa sasaran sangat penting bagi penerjemah; se•pa•ham n 1 satu paham; sependapat; sepengertian: dl hal ini, ia ~ dng saya; 2 satu keyakinan; satu aliran: anggota perkumpulan itu terdiri atas orang-orang yg ~
2. Bahasa Arab yang dimaksud dalam penelitian ini adalah salah satu matakuliah Pendidikan Agama Islam yang diajarjkan pada Sekolah Tinggi Agama Islam yang dimaksud dengan judul makalah ini adalah suatu penelitian tentang keadaan pemahaman mahasiswa, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap pelajaran Bahasa Arab pada mahasiswa lulusan MA dan SMU.
B. Rumusan masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang penulis kemukakan tersebut. maka yang menjadi permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah :
A. Pemahaman
1. Apakah pengertian pemahaman?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi pada pemahaman?
B. Sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah Bahasa Arab pada mahasiswa lulusan madrasah aliyah (MA)?
C. Sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah Bahasa Arab pada mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU)?
D. Bagaimana perbandingan tingkat pemahaman pada matakuliah bahasa arab antara lulusan MA dan SMU?
C. Alasan Memilih Judul
Dalam penetapan judul di atas, penulis dilatar belakangi oleh beberapa alasan sebagai berikut :
1. mengingat betapa pentingnya pelajaran Bahasa Arab, karena selain Bahasa Arab sebagai bahasa internasional, juga ilmu-ilmu agama banyak ditulis ke dalam Bahasa Arab, agar kita bisa menggalinya untuk keselamatan kehidupan di dunia dan di akhirat, oleh karena itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguhdari berbagai pihak baik dari guru, orang tua dan siswa itu sendiri.
2. Mengingat peranan minat siswa dalam belajar ikut menentukan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, termasuk pengajaran Bahasa Arab.
3. Sepengetahuan penulis masalah ini belum ada yang meneliti khususnya pada Sekolah Tinggi Agama Islam.
D. Tujuan penulisan
1. mengetahui pengertian pemahaman.
2. mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa lulusan MA dan SMA pada matakuliah bahasa arab.
3. mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman mahasiswa lulusan MA dan SMU pada matakuliah bahasa arab.
4. untuk mengetahui perbandingan tingkat pemahaman mahasiswa lulusan MA dan SMA pada matakuliah bahasa arab.
BAB II
PERBANDINGAN TINGKAT PEMAHAMAN MATAKULIAH BAHASA ARAB PADA MAHASISWA LULUSAN MA DAN SMA DI STAI-SUKABUMI
A. Pemahaman
1. Pengertian pemahaman
Pemahaman merupakan proses berpikir dan belajar. Dikatakan demikian karena untuk menuju ke arah pemahaman perlu diikuti dengan belajar dan berpikir. Pemahaman merupakan proses, perbuatan dan cara memahami. Pemahaman adalah tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini ia tidak hanya hapal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan.
Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam proses belajar mengajar. Tanpa minat yang tinggi, tujuan pengajaran tidak akan berhasil dengan baik sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Oleh sebab itu minat siswa harus ditingkatkan dalam rangka menopang keberhasilan proses belajar mengajar tersebut, termasuk juga pengajaran Bahasa Arab.
Pengajaran Bahasa Arab bertujuan membimbing siswa agar mereka dapat menulis, membaca dan mengerti Bahasa Arab baik dari segi tata bahasanya maupun langsung mengkomunikasikannya, karena itu untuk mencapai proses pengajaran Bahasa Arab yang diinginkan, salah satu faktornya adalah minat siswa itu sendiri.
Di dalam ranah kognitif menunjukkan tingkatan-tingkatan kemampuan yang dicapai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dapat dikatakan bahwa pemahaman tingkatannya lebih tinggi dari sekedar pengetahuan. Definisi pemahaman menurut Anas Sudijono adalah "kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan".
Menurut Saifuddin Azwar, dengan memahami berarti sanggup menjelaskan, mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, meramalkan, dan membedakan. Sedangkan menurut W. S. Winkel, yang dimaksud dengan pemahaman adalah : Mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti dalam grafik. Dari berbagai pendapat di atas, indikator pemahaman pada dasarnya sama, yaitu dengan memahami sesuatu berarti seseorang dapat mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, memperluas, menyimpulkan, menganalisis, memberi contoh, menuliskan kembali, mengklasifikasikan, dan mengikhtisarkan. Indikator tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengandung makna lebih luas atau lebih dalam dari pengetahuan. Dengan pengetahuan, seseorang belum tentu memahami sesuatu yang dimaksud secara mendalam, hanya sekedar mengetahui tanpa bisa menangkap makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari. Sedangkan dengan pemahaman, seseorang tidak hanya bisa menghapal sesuatu yang dipelajari, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk menangkap makna dari sesuatu yang dipelajari juga mampu memahami konsep dari pelajaran tersebut.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman
Menurut Winarno Surahmad yang dinamakan dengan faktor pada pemahaman adalah sebagai berikut :
1. Ada tujuan yang jelas akan dicapai
2. Ada bahan yang akan menjadi proses
3. Ada pelajar / siswa yang aktif mengikuti
4. Ada metode tertentu untuk mencapai tujuan
5. Ada gurunya yang akan melaksanakan
6. Dan bahwa proses emahaman interaksi tersebut berlangsung dalam ikatan situasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemahaman akan mudah mencapai tujuan apabila semua faktor itu saling berperan dan saling muenunjang. Faktor tujuan misalnya erat kaitannya dengan faktor anak didik, di mana tujuan tidak ditunjang oleh bahan sebagai penjabaran dari tujuan itu sendiri, oleh karena itu semua faktor di atas tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling ketergantungan dan saling tunjang menunjang.
Faktor - faktor tersebut dapat penulis uraikan satu-persatu sebagai berikut :
1. Faktor Tujuan
Tujuan pendidikan sangat penting ditentukan terlebih dahulu sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Sebab tujuan adalah merupakan pedoman yang menunjukkan arah kemana proses pendidikan itu dijalankan. Tujuan yang jelas akan mempermudah berbagai pihak berbagai pihak yang terkait dalam proses belajar mengajar untuk menentukan arah dan langkah yang tepat dan sesuai dengan maksud yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebaliknya tujuan yang tidak jelas juga akan berakibat kaburnya arah yang dituju dan bahkan akan menyulitkan dalam menentukan sara dan fasilitas yang akan dipergunakan.
2. Faktor Bahan / Materi
Setelah diketahui tujuan pendidikan itu, maka barulah ditetapkan materi yang bagaimana yang dapat mengantarkan kita ke arah tujuan, namun haruslah diperhatikan di dalam pemilihan bahan yang akan diberikan haruslah memperhatikan tentang perkembangan dan pertumbuhan yang akan menerima pengajaran tersebut. Kedua hal ini memang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Karena bahan yang disajikan lebih berkesan kepada anak didik apabila didasarkan pada prinsif paedagogik dan psikologis. Dengan demikian memahami pemahaman diusahakan harus menguasai materi yang masih belum sesuai dengan perkembangan kejiwaan materi yang masih belum sesuai dengan perkembangan kejiwaan anak didik sehingga menimbulkan kesulitan bagi anak didik untuk menerimanya. Tetapi sebaliknya pilihlah bahan/materi yang sesuai dengan tingkat kecerdasan anak didik kita sendiri. Sehingga dengan mudah mereka memahami dan mencerna bahan yang sedang kita sampaikan. Begitu pula halnya dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai dalam proses pendidikan tersebut. Juga perlu mempertimbangkan tingkat perkembangan dan kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak, agar tujuan yang akan dicapai tidak terlalu muluk dan dapat dicapai oleh anak. Salah satu hal yang ereat hubungannya dengan materi/bahan pelajaran ini adalah pengetahuan dasar anak yang mampu memberikan sambutan terhadap informasi yang datang kemudian. Anak yang sekolah dengan latar belakang pengalaman yang berbeda beda sesuai dengan kemajuan dan perkembangan peradaban dimana ia hidup dan dibesarkan. Pengalaman adalah modal dasar untuk menerima pengetahuan baru. Anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sudah maju, dia telah mengetahui banyak hal.
3. Faktor Anak Didik
Anak didik merupakan subjek pendidikan dan sasaran pendidikan, apabila faktor anak didik ini harus dipertimbangkan sebagai faktor utama dalam proses pemahaman, maka hal ini harus berdasarkan pertimbangan dan kematangan anak tersebut. Guru / pendidik harus mengetahui secara tepat tersebut tingkat perkembangan setiap anak didik yang walaupun dilihat dari segi usia dan perkembangan jasmaninya hampir sama, namun perkembangan kejiwaan dan tingkat kecerdasannya tentu berbeda. Peranan minat ini dalam proses belajar mengajar tidak diragukan lagi, karena perhatian anak dalam mengikuti pelajaran yang diberikan banyak ditentukan oleh minat siswa itu sendiri dalam mengikuti pelajaran yang diberikan. Anak yang kurang perhatiannya terhadap pelajaran, terkadang bermula dari minat siswa itu sendiri terhadap pelajaran tersebut. Anak yang tidak berminat terhadap pelajaran yang diberikan digambarkan sebagai pedati yang didorong untuk menaiki sebuah gunung dengan keadaan terkunci. Mereka tidak mungkin dipaksakan dan difungsikan sebagaimana mestinya, kalau mereka sendiri tidak mempunyai minat terhadap pelajaran itu. Di sini sebenarnya peranan guru harus mampu menumbuhkan kegairahan dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan, sehingga pelajaran yang disajikan kepada anak akan mudah mereka terima walaupun dinilai agak sukar.
Dalam kegiatan belajar mengajar yang pada akhirnya siswa diharapkan dapat memahami maknanya dan untuk mencapai hal itu dalam belajar diperlukan pemahaman. Pemahaman disini diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran. Dengan adanya pemahaman terhadap materi pelajaran, membawa siswa pada dasar-dasar pengertian umum dan selanjutnya akan memahami pengertian-pengertian bagiannya. Dalam belajar, untuk pemahaman sangatlah penting, karena pemahaman seseorang akan kuat ingatannya terhadap materi materi pelajaran, selain itu ia akan mengambil imajinasi dan pikiran yang tenang.
4. Faktor Metode
Metode adalah suatu cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk pencapaian suatu tujuan. Di dalam penilaian metode ini erat sekali hubungannya dengan bahan / materi yang akan diberikan, serta anak didik yang akan menerima materi pengajaran tersebut, makin tepat metode yang digunakan, maka semakin efektif pula pencapaian tujuan pendidikan yang akan dicapai. Namun untuk menetapkan suatu metode yang baik memang sulit, tetapi setiap guru / pendidik hendaknya dapat mengetahui beberapa macam metode yang sering digunakan dan beberapa petunjuk untuk penggunaannya. Tanpa pengetahuan yang luas akan metode dan cara menggunakannya, tentunya tidak banyak diharapkan hasil yang akan dicapainya.
Dengan jalan ini seseorang guru dapat menentukan metode apa yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas yang akan di hadapi seorang guru. Disamping situasi kelas yang ada, juga banyak tergantung kepada materi yang akan disampaikan oleh guru yang bersangkutan, materi yang lebih banyak memerlukan praktek dan pencontohan dari guru, tentu metode demonstrasi yang lebih tepat digunakan. Jadi berhasil tidaknya metode pendidikan yang diusahakan tergantung kepada beberapa faktor yang antara lain factor metode / cara menyampaikannya. Karena sering kali kurang berhasilnya proses belajar mengajar, bukan karena bahan / materi pelajaran yang sudah usang dan ketinggalan, tetapi kurang tepatnya metode yang dipergunakan guru dalam menyampaikan pelajaran, begitu sebaliknya sering kali bahan yang disampaikan terlalu bermakna dan mendalam, tetapi karena metode yang dipergunakan guru mampu membangkitkan kegairahan belajar siswa, akhirnya pelajaran yang kurang mendalam dan bermakna tadi dapat diterima oleh anak dengan sebaik-baiknya. Hal ini bukan berarti penulis terlalu mengagungkan metode tanpa memperhatikan aspek lainnya, tetapi bagaimanapun penguasaan akan teknik-teknik untuk menyampaikan materi akan membantu suksesnya pencapaian tujuan yang akan dicapai oleh guru yang bersangkutan. Kenyataan menunjukkan bahwa sering kali anak yang membenci pelajaran, bukan disebabkan oleh materi pelajaran itu, anak didik tidak terlalu tertarik terhadap pelajaran yang disuguhkan kepadanya. Akibat kelirunya metode yang dipilih sering kali membawa akibat fatal akan pelajaran yang sedang berlangsung. Apabila tujuan yang akan dicapai sedangkan kehadiran guru tersebut sering merupakan penyiksaan bathin bagi siswa yang akan menerima pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu selain penguasan materi yang akan disampaikan juga keterampilan guru untuk menseleksi metode yang diketengahkan.
5. Faktor Pendidik
Guru adalah seorang yang bertanggung jawab atas sukses tidaknya pelaksanaan pendidikan yang sedang dilaksanakan. Karena gurulah yang akan memberikan warna kehidupan anak didik dan ilmu pengetahuan yang ia berikan. Tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh tingkah laku dan kepribadian guru, karena apa yang dilakukan oleh guru akan dijadikan contoh oleh anak didik. Segala tingkah laku yang diperhatikannya sedikit banyaknya akan tercermin kepada anak, karena apa yang dikatakannya akan dibuktikan oleh anak dengan melihat tingkah laku yang dilakukan oleh guru itu. Karena kurang terkontrolnya tingkah laku guru ini sering kali membuat anak didik menjadi bingung dan prustasi, karena mereka tidak menemukan guru yang dapat dan patut mereka tiru dan \ teladani. Apabila seorang guru terutama guru agama tidak mampu melaksanakan sesuatu yang telah mereka ucapkan padahal ia seorang yang berilmu Tugas guru agama memang berat dan memerlukan kerja keras demi suksesnya pelaksanaan pendidikan agama. Dia bukan hanya sekadar mediatur yang menyamapaikan ilmu pengetahuan semata-mata, tetapi hendaknya ia mampu memberikan contoh dan teladan yang baik kepada anak didiknya. Oleh karena itu untuk suksesnya seorang guru melaksanakan tugasnya, dia bukan hanya sekedar menguasai ilmu yang akan disampaikannya, tetapi juga terampil dalam mengajar dan memiliki sifat kepribadian yang tinggi. Guru adalah bukan saja dinilai dari keberhasilan tugasnya di sekolah, tetapi juga dinilai bagaimana tindakannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak, karena orang tua menganggap bahwa orang yang berada di atas itu lebih baik.
Dengan demikian guru / pendidik hendaknya harus benar-benar seorang muslim sejati di mana segala tingkah lakunya harus mencerminkan seorang muslim yang berkepribadian tinggi. Seorang guru agama yang sadar akan tugas yang berat itu tentu berusaha semaksimal mungkin membina diri dan meningkatkan kualitas pribadi, sehingga dengan usaha yang dilakukan dia akan berhasil membina umat menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam pembentukan kepribadian dimana mereka tidak banyak dituntut unsur pembinaan kepribadian. Selain itu dalam menjalankan tugasnya seorang guru harus cakap dan terampil, agar pendidikan agama dapat mencapai hasil yang diinginkan dan tidak akan mengalami kegagalan.
6. Faktor Situasi
“Situasi adalah keadaan yang memungkinkan pendidikan berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan.” Sangatlah sulit bagi kita untuk mencapai suatu tujuan pendidikan itu apabila situasi atau lingkungan yang ada di sekitar anak kurang menunjang akan terlaksananya penyelenggaraan pendidikan agama. Karena itu sangatbesar pengaruhnya di dalam perkembangan kepribadian anak, oleh karena itu lingkungan ini dianggap sebagai pendidik yang bertanggung jawab terhadap suksesnya pelaksanaan pendidikan. Karena begitu besar pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian anak dan lingkungan akan memberikan warna tertentu kepada anak. Seringkali sekolah gagal dalam melaksanakan tugas mendidik anakanak, karena tidak didukung oleh lingkungan anak itu sendiri. Pendidikan yang diterima anak lebih tinggi nilainya, bila didukung atau ditunjang oleh faktor lingkungan. Tetapi sebalinya pendidikan agama hampir tak berarti apabila lingkungan anak mengarah sikap negatif, bebas bergaul di dalam masyarakat. Pelaksanaan pendidikan yang hanya di lingkungan sekolah saja dengan waktu yang relatif singkat, sedang anak didik lebih banyak bergaul serta hidup dalam masyarakat. Di sini kiranya orang tua mempunyai tanggung jawab yang cukup besar untuk mengawasi, membimbing dan mengarahkan anak dalam rangka mensukseskan pelaksanaan pendidikan agama. Oleh karena itu guru hendaklah menjalin kerja sama yang harmonis dengan orng tua di rumah. Dengan demikian segala sesuatu kesulitan yang dialami di sekolah dalam menjalankan missinya akan semakin mudah diperbaiki dan ditingkatkan secara bersama-sama dengan orang tua murid. Tetapi kenyataan yang ada memang jauh berbeda dari apa yang diharapkan oleh sekolah, orang tua dengan berbagai alasan tidak berkesempatan menjalin hubungan dengan guru di sekolah juga merupakan problem yang sulit untuk dicapai dan diatasi. Karena sementara ini pertemuan antara orang tua dengan guru di sekolah hanya sekali setahun, yaitu saat acara kenaikan kelas dan penyerahan buku raport murid dan inipun terkadang orang tua tidak berkesempatan untuk menghadirinya. Ketidak harmonisan hubungan antara sekolah dengan rumah tangga disamping juga disebabkan oleh faktor kesempatan seperti dikemukakan di atas, juga disebabkan oleh latar belakang orang tua itu sendiri, karena pendidikan yang rendah biasanya bergandengan dengan keterbatasan dalam menerima informasi, kurang tanggapnya dengan keadaan dan pola pikir yang masih tradisional dan terkebelakang. Dengan demikian akan lahirlah pemikiran yang kurang menunjang bahkan menghambat kepada kelancaran pelaksanaan pendidikan anak. Orang tua yang berpendidikan rendah terkadang mempunyai tanggapan bahwa sekolah hanya tempat titipan anak-anak mereka, di saat orang tua sibuk dalam pekerjaan. Atau boleh jadi sekolah adalah merupakan tumpuan harapan dalam rangka mencerdaskan atau mendidik anak-anak mereka sehingga dengan dimasukkannya anaknya ke sekolah, mereka menganggap tugas mereka sudah selesai untuk mendidik anakanaknya. Di sekolah anak akan mendapatkan segala-galanya dalam rangka pembentukan kepribadiannya. Sehingga apabila anaknya tidak berhasil dididik sering kali kesalahan itu dilontarkan kepada sekolah dengan tuduhan bahwa sekolah tidak berhasil mendidik anak-anak mereka.
B. Pemahaman mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah (MA) terhadap matakuliah bahasa arab
Pendidikan Islam lazimnya diartikan secara berbeda dengan pendidikan pada umumnya, sehingga ada pendidikan keagamaan termasuk madrasah Islam dan ada pendidikan umum. Atas dasar pembedaan itu kemudian muncul dikotomi antara lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan keagamaan (Islam). Lebih jauh, orang juga membedakan antara pelajaran agama dengan pelajaran (umum) lainnya. Disebut sebagai pelajaran agama jika diajarkan tentang tauhid/aqidah, fiqh, akhlak, tarikh dan Bahasa Arab.
Oleh karena itu tingkat pemahaman mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah (MA) lebih menonjol di bandingkan dengan mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Berdasarkan hasil diskusi saya dengan beberapa mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah, bahwasanya mereka tidak mengalami kesulitan terlalu banyak karena mereka sudah mempunyai dasar atau basik sejak mereka menjalani pendidikan di Madrasah Aliyah.
Mereka hanya tinggal memperdalam dan mengkaji ulang materi dari matakuliah bahasa arab tersebut. Karena menurut mereka pelajaran yang dipelajari di Madrasah Aliyah tidak jauh berbeda dengan pelajaran yang di ajarkan di Sekolah tinggi Agama Islam, hanya ada penekanan pada salah satu poin saja. Rata-rata nilai yang mereka peroleh antara atau bekisar antara tujuh (7) hingga delapan (8). Sugguh nilai yang cukup memuaskan.
C. Pemahaman mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) terhadap matakuliah bahasa arab
Hakikat pendidikan adalah usaha secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar baik dalam pendidikan formal dan non formal. Jadi dengan kata lain pendidikan pada hakikatnya adalah ikhtiar manusia supaya berkembang sampai kepada titik yang dicapai sesuai dengan tujuan yang di cita-citakan.
Tentunya ada pertanyaan mendasar kenapa siswa SMU memilih perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan bidang yang telah ditentukan, melainkan mereka memilih perguruan tinggi atau universitas yang jauh dari kurikulum atau ajaran yang biasa mereka pelajari di SMU (Sekolah Menengah umum).
Melihat dari pengertian, tujuan, dan hakikat pendidikan adalah bahwa setiap individu memiliki kebebasan dalam menjalani dan menentukan hidupnya. Jadi jelas dikatakan bahwa menuntut ilmu tidaklah harus sesuai dengan yang telah dijalani sebelumnya tapi menggali terus ilmu sesuai kemampuan dan tujuan yang akan di capai nantinya.
Berdasarkan survey dan hasil diskusi dengan beberapa mahasiswa lulusan SMU, tentang pemahaman mereka terhadap pelajaran atau matakuliah bahasa arab ini adalah:
1. Pada dasarnya mereka memiliki kesulitan dalam menterjemahkan isi dari materi pelajaran bahasa arab tersebut, karena mahasiswa lulusan SMU tidak ada dasar atau basik dalam pelajaran atau matakuliah bahasa arab.
2. Mahasiswa lulusan SMU tidak mengerti ketika menerima pelajaran tersebut.
3. mahasiswa lulusan SMU tidak dapat mengerjakan tugas tanpa ada bantuan dari dosen atau rekan yang paham pada matakuliah bahasa arab tersebut.
Dengan melihat kesulitan-kesulitan yang di hadapi maka sebagai mahasiswa kita harus berpikir, berkerjakeras dan mencari solusi demi tercapainya tujuan dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi tersebut. Dilihat dilapangan kebanyakan mahasiswa lulusan sekolah umum mencari jam tambahan atau prifat dengan teman atau dosen pembimbing. Melihat dari segi tingkat pemahaman antara mahasiswa lulusan MA dan SMU sangat berbeda jauh, contohnya dari segi pencapaian nilai yang di peroleh, kebanyakan mahasiswa lulusan SMU hanya mendapatkan nilai bekisar antara enam (6) sampai tujuh (7) nilai yang cukup. Tidak sedikit pula yang mendapatkan nilai kurang dari cukup.
D. Perbandingan tingkat pemahaman pada matakuliah bahasa arab antara siswa lulusan lulusan MA danSMU.
Berdasarkan hasil survey di lapangan dari dua puluh orang mahasiswa dari masing-masing lulusan MA dan SMU tentang tingkat pemahaman matakuliah dapat di hasilkan sebagai berikut:
Dilihat dari perolehan nilai semester atau per enam bulan, yang memper oleh nilai A-B.
Tabel:
Hasil tinjauan Persentase Nilai A-B
Mahasiswa lulusan Madrasah Aliyah
(yang dibarengi dengan pesantren)
80%
Mahasiswa Madrasah Aliyah
(tidak di berengi pesantren)
60%
Mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum.
( yang dibarengi dengan pesantren)
70%
Mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Umum.
(yang tidak di barengi pesantren)
40%
Dengan melihat tabel di atas bahwasannya mahasiswa yang lebih unggul tingkat pemahaman pada matakuliah bahasa arab ini jelas terlihat pada mahasiswa lulusan Madrsah Aliyah yang di barengi dengan pesantren. Karena mereka mengkaji lebih dalam dari materi-materi bahasa arab tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uaraian di atas dapat di simpulkan bahwa Pendidikan adalah salah satu usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan cara ini setiap manusia diharapkan dapat menyerap ilmu pengetahuan, keterampilan dan keteladanan yang positif baik di lembaga pendidikan formal maupun non formal. Sasaran yang diharapkan agar manusia Indonesia menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan punya wawasan yang luas untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Karena sesui dengan Undang-undang pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut :
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban manusia yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandir dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Ilmu pengetahuan itu pada dasarnya ada dua macam, yaitu ilmu pengetahuan umumdan ilmu pengetahuan agama. Orang yang berilmu pengetahuan diangkat derajatnya oleh Allah SWT, khususnya orang yang berilmu pengetahuan agama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an surah Al Mujadalah ayat 11 sebagai berikut :
Aryinya:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam dunia pendidikan melihat realita atau penomena yang ada bahwa setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan, di Sekolah Tinggi Agama Islam terdapat matakuliah bahasa arab dan hal tersebut sudah merupakan bagian dari kurikulum pendidikan/ tarbiyah. Perbandingan dan persaingan anatara mahasiswa sangat jelas terjadi, karena Sekolah Tinggi agama Islam khususnya di kota Sukabumi menerima mahasiswa nya dari berbagai bentuk jurasan pendidikan. Dari semua kejadian tersebut dapat di ambil hikmah bahwa masyarakat sudah menyadari akan pentingnya pendidikan demi membangun sebuah sumberdaya manusia yang layak dan siap untuk menjalani persaingan dalam pendidikan.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini sangatlah penting mengetahui matakuliah bahasa arab yang kali ini dipusatkan pada perbandingan tingkat pemahaman pada mata kuliah bahas arab tersebut, Dalam makalah ini hanya sedikit yang disajikan tentang pemahaman matakuliah bahasa arab, maka dari itu diharapkan kepada pembaca untuk lebih memperdalam lagi materi ini. Dan semoga makalah ini menjadi motivasi untuk lebih memperdalamnya lagi. Melihat hasil penelitian yang dilakukan penulis, pada akhirnya penulis ingin memberikan saran yang mudah-mudahan dapat diterima oleh semua pihak yang terkait sebagai berikut :
Kepada mahasiswa, hendaklah selalu belajar, terutama pada matakuliahbahasa arab yang memang sudah menjadi kewajiban sebagai mahasiswa STAI. Walaupun belum memahami secara sempurna mengenai matakuliah tersebut, harus tetap berusaha belajar dan belajar lebih giat lagi, karena yakinlah di setiap ilmu yang diterima pasti akan mendapatkan berkahnya.
DAFTAR PUSTAKA
• WJS. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka
Jakarta.
• HC. Witherington, Psikologi Pendidikan, Terjemahan M. Bukhari, Penerbit
Aksara Baru, Jakarta.
• Ananda Santoso, A.R. Alhanif, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,
Penerbit Alumni, Surabaya.
• Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, PT. Renika
Cipta, Jakarta, 1995.
• Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta, 1987.
http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com
http://www.uin.ac. id/ index.=com
Rabu, 16 Desember 2009
Kesadaran Dalam Beragama
Pengertian kesadaran beragama dalam tulisan ini meliputi rasa keagamaan, pengalaman ke-Tuhanan, keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam system mental dari kepribadian.
Kematangan kepribadian yang dilandasi oleh kehidupan agama akan menunjukan kematangan sikap dalam menghadapi berbagai masalah, norma, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Pada waktu lahir, anak belum beragama. Ia baru memiliki potensi atau fitrah untuk berkembang menjadi manusia beragama. Bayi belum mempunyai kesadaran beragama, tetapi telah memiliki potensi kejiwaan dan dasar-dasar kehidupan berTuhan.
Penanaman kesadaran beragama kepada si anak yang berhubungan pengalaman ke-Tuhanan hendaknya menekankan pada pemuasan kebutuhan efektif.
Dalam rasa kesendiriannya, si remaja memerlukan kawan setia atau pribadi yang mampu menampung keluhan-keluhannya, melindungi, membimbing, mendorong dan memberi petunjuk jalan yang dapat mengenbangkan kepribadiannya. Pribadi yang demikian sempurna itu sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berkembangnya kemampuan berfikir secara abstrak, si remaja mampu pula menerima dan memahami ajran agama yang berhubungan dengan masalah gaib, abstrk dan rohaniah, seperti kehidupan alam kubur, hari kebangkitan, sorga, neraka, bidadari, malaikat, jin, syetan dan sebagainya.
Kematangan kepribadian yang dilandasi oleh kehidupan agama akan menunjukan kematangan sikap dalam menghadapi berbagai masalah, norma, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Pada waktu lahir, anak belum beragama. Ia baru memiliki potensi atau fitrah untuk berkembang menjadi manusia beragama. Bayi belum mempunyai kesadaran beragama, tetapi telah memiliki potensi kejiwaan dan dasar-dasar kehidupan berTuhan.
Penanaman kesadaran beragama kepada si anak yang berhubungan pengalaman ke-Tuhanan hendaknya menekankan pada pemuasan kebutuhan efektif.
Dalam rasa kesendiriannya, si remaja memerlukan kawan setia atau pribadi yang mampu menampung keluhan-keluhannya, melindungi, membimbing, mendorong dan memberi petunjuk jalan yang dapat mengenbangkan kepribadiannya. Pribadi yang demikian sempurna itu sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berkembangnya kemampuan berfikir secara abstrak, si remaja mampu pula menerima dan memahami ajran agama yang berhubungan dengan masalah gaib, abstrk dan rohaniah, seperti kehidupan alam kubur, hari kebangkitan, sorga, neraka, bidadari, malaikat, jin, syetan dan sebagainya.
Tugas_3_hari ke-1
Tugas _3_ hari ke-1
Sekolah Tinggi Agama Islam, menerima mahasiswa dan mahasiswinya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah (MA) saja, melainkan menerima pula lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA) atau sederajat lainnya. Dalam bidang matakuliah yang di pelajari atau diajarkan bukan hanya matakuliah bidang keagamaan saja tapi bidang umum pun ada, matakuliah bidang umum sudah tidak asing lagi dijumpai dan dipelajari, namun ada sedikit penambahan yang lebih menditail atau komplit, salah satu matakuliah dalam bidang agama ditemukan matakuliah “Bahasa Arab”. Dimana, pelajaran tersebut sangat membingungkan bagi mahasiswa yang dasarnya lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA). Seakan-akan pelajaran tersebut sangat asing dan baru di pelajari di sana.
Dibanding dengan matakuliah yang lain, hanya matakuliah bahasa arablah yang menurut saya paling sulit dipelajari. Karena di Sekolah Menengah Umum tidak dipelajari secara khusus, dan memang tidak ada dalam kurikulumnya. Ada salah satu perkataan bijak bahwa:
“Dimanapun kita belajar dan apapun yang kita pelajari, kita harus menghadipinya dan mendalaminya dengan serius dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya”. (mulyawan S Nugraha)
Menurut saya ungkapan di atas cukup bijak dan rasional, dimana ungkapan tersebut mengajak atau menyerukan kepada kita, supaya kita lebih berani, bisa, dan tidak takut menjalani, juga menghadapi hidup atau menikmati keadaan yang sedang dialami dan dijalani saat ini.
Ada beberapa pemecahan atau solusi yang bisa di ambil dari permasalahan diatas (sulitnya mempelajari matakuliah bahasa arab), yaitu salah satunya dengan mencari jam tambahan, les / prifat matakuliah tersebut, atau dengan tidak ada rasa malu-malu untuk selalu bertanya apabila ada sesuatu yang kurang dipahami dan mengerti. Dari sebagian mahasiswa yang ada di Sekolah Tinggi Agama Islam, dapat dibandingkan bahwa, bagaimana pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) dan mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMU). Berdasarkan surpey dilapangan bahwa mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) lebih unggul di banding mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengan Umum (SMA).
Kenapa mahasiswa lulusan dari Madrasah Aliah lebih unggul dari mahasiswa yang lulusan dari Sekolah Menengah Umum? Karena di sekolah Madrasah Aliah siswanya diajarkan atau mempelajari pelajaran tentang bahasa arab, sedangkan di Sekolah Menengan Umum tidak, di sekolah Madrasah Aliah pelajaran bahasa arab terdapat dalam kurikulum pendidikannya, sedangkan di Sekolah Menengah Umum tidak, dan masih banyak lagi faktor-faktor lainya.
Pertanyaan mendasar, mengapa Sekolah Tinggi Agama Islam menerima mahasiswanya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah saja atau jurusan yang sesuai dengan ketentuannya? Ada beberapa pertimbangan yang dapat diambil, salah satunya mungkin karena Sekolah Tinggi tersebut ingin memajukan masyarakatnya dengan pendidikan Agama Islam tanpa harus terpaku pada salah satu ketentuan tertentu, karena kekurangan mahasiswa hingga Sekolah Tinggi tersebut mengambil mahasiswa dan ahasiswinya tidak terbatas dari kalangan dan jurusan apapun, atau karena faktor lain atau tujuan lain seperti: sebagian mahasiswa dan ahasiswinya hanya ingin mengejar title atau gelar saja.
Sekolah Tinggi Agama Islam, menerima mahasiswa dan mahasiswinya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah (MA) saja, melainkan menerima pula lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA) atau sederajat lainnya. Dalam bidang matakuliah yang di pelajari atau diajarkan bukan hanya matakuliah bidang keagamaan saja tapi bidang umum pun ada, matakuliah bidang umum sudah tidak asing lagi dijumpai dan dipelajari, namun ada sedikit penambahan yang lebih menditail atau komplit, salah satu matakuliah dalam bidang agama ditemukan matakuliah “Bahasa Arab”. Dimana, pelajaran tersebut sangat membingungkan bagi mahasiswa yang dasarnya lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA). Seakan-akan pelajaran tersebut sangat asing dan baru di pelajari di sana.
Dibanding dengan matakuliah yang lain, hanya matakuliah bahasa arablah yang menurut saya paling sulit dipelajari. Karena di Sekolah Menengah Umum tidak dipelajari secara khusus, dan memang tidak ada dalam kurikulumnya. Ada salah satu perkataan bijak bahwa:
“Dimanapun kita belajar dan apapun yang kita pelajari, kita harus menghadipinya dan mendalaminya dengan serius dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya”. (mulyawan S Nugraha)
Menurut saya ungkapan di atas cukup bijak dan rasional, dimana ungkapan tersebut mengajak atau menyerukan kepada kita, supaya kita lebih berani, bisa, dan tidak takut menjalani, juga menghadapi hidup atau menikmati keadaan yang sedang dialami dan dijalani saat ini.
Ada beberapa pemecahan atau solusi yang bisa di ambil dari permasalahan diatas (sulitnya mempelajari matakuliah bahasa arab), yaitu salah satunya dengan mencari jam tambahan, les / prifat matakuliah tersebut, atau dengan tidak ada rasa malu-malu untuk selalu bertanya apabila ada sesuatu yang kurang dipahami dan mengerti. Dari sebagian mahasiswa yang ada di Sekolah Tinggi Agama Islam, dapat dibandingkan bahwa, bagaimana pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) dan mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMU). Berdasarkan surpey dilapangan bahwa mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) lebih unggul di banding mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengan Umum (SMA).
Kenapa mahasiswa lulusan dari Madrasah Aliah lebih unggul dari mahasiswa yang lulusan dari Sekolah Menengah Umum? Karena di sekolah Madrasah Aliah siswanya diajarkan atau mempelajari pelajaran tentang bahasa arab, sedangkan di Sekolah Menengan Umum tidak, di sekolah Madrasah Aliah pelajaran bahasa arab terdapat dalam kurikulum pendidikannya, sedangkan di Sekolah Menengah Umum tidak, dan masih banyak lagi faktor-faktor lainya.
Pertanyaan mendasar, mengapa Sekolah Tinggi Agama Islam menerima mahasiswanya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah saja atau jurusan yang sesuai dengan ketentuannya? Ada beberapa pertimbangan yang dapat diambil, salah satunya mungkin karena Sekolah Tinggi tersebut ingin memajukan masyarakatnya dengan pendidikan Agama Islam tanpa harus terpaku pada salah satu ketentuan tertentu, karena kekurangan mahasiswa hingga Sekolah Tinggi tersebut mengambil mahasiswa dan ahasiswinya tidak terbatas dari kalangan dan jurusan apapun, atau karena faktor lain atau tujuan lain seperti: sebagian mahasiswa dan ahasiswinya hanya ingin mengejar title atau gelar saja.
Minggu, 29 November 2009
sahabatku
Sahbatku….
Allah maha penyayang. Dia hanya menyayangi hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh. Dia sangat membenci hambanya yang kafir dan enggan mentaati perintah-Nya. Semoga Allah selalu mengukuhkan iman kita, sehingga kita senantiasa disayangai oleh-Nya. Amin.
Sahabatku….
Allah suka dan ingin kita masuk surga, dan Dia selalu memberi kita jalan menuju surga, semua itu karena Allah sayang kepada kita. Karena Allah sayang kepada kita, maka Dia membekali kita cara untuk beramal sholeh. Alloh juga memberi kemudahkan kepada kita untuk beramal sholeh. Sehingga kita diberi pahala dan masuk surga-Nya.
Jika kita rajin shalat lima waktu, tentu Alloh akan memberi kita pahala yang besar. Begitupun apabila kita berpuasa dan bershadakoh dengan ikhlas maka, Alloh pun akan memberikan kita pahala.
Semoga Allah mengokohkan iman yang menancap di dalam dada kita semua. Sehingga Allah akan lebih menyayangi kita lagi. Amin..
Allah maha penyayang. Dia hanya menyayangi hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh. Dia sangat membenci hambanya yang kafir dan enggan mentaati perintah-Nya. Semoga Allah selalu mengukuhkan iman kita, sehingga kita senantiasa disayangai oleh-Nya. Amin.
Sahabatku….
Allah suka dan ingin kita masuk surga, dan Dia selalu memberi kita jalan menuju surga, semua itu karena Allah sayang kepada kita. Karena Allah sayang kepada kita, maka Dia membekali kita cara untuk beramal sholeh. Alloh juga memberi kemudahkan kepada kita untuk beramal sholeh. Sehingga kita diberi pahala dan masuk surga-Nya.
Jika kita rajin shalat lima waktu, tentu Alloh akan memberi kita pahala yang besar. Begitupun apabila kita berpuasa dan bershadakoh dengan ikhlas maka, Alloh pun akan memberikan kita pahala.
Semoga Allah mengokohkan iman yang menancap di dalam dada kita semua. Sehingga Allah akan lebih menyayangi kita lagi. Amin..
Langganan:
Postingan (Atom)