KISAH KU
Dimulai dari ta’arup atau perkenalan, nama saya Saroh Nurmuawanah, saya tinggal di Sukabumi tepat nya di Cisaat. Perkenalan nya cukup segitu aja y…
Sekarang saya bekerja di salah satu bidang jasa, yakni mengajar di sebuah sekolah ‘Taman Kanak-kanak’ yang lokasinya tidak jauh dari tempat saya tinggal, namanya TK. Al-ZIHAD. Pengalaman yang paling berkesan pada saat saya mulai mengajar adalah ketika pertama kali saya masuk ke kelas, pada saat itu saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, memulai dari mana, sikap yang bagaimana yang harus saya tampilkan, saya benar-benar merasa gugup walaupun hanya menghadapi anak-anak, untunglah saat itu saya di temani oleh salah satu pengajar (guru) yang sudah lumayan lama mengajar disana, namanya ibu Fatimah Wardah. Subhanallah, beliau sangat baik, ramah dan juga cantik, usianya kira-kira empat tahun lebih tua di atas saya. Beliau mengajarkan saya berbagai macam hal yang berhubungan dengan anak-anak usia dini yang memang harus benar-benar dibina hingga anak-anak tersebut menjadi seorang anak yang sehat, cerdas, dan ceria. Walau pun tidak semudah membalikkan telapak tangan, membentuk anak sesuai dengan apa yang di harapkan baik itu oleh kita sebagai pengajar khususnya atau pun orang tua pada umumnya, Disini saya tetap berusaha semaksimal mungkin membina anak-anak usia dini tersebut dengan rasa ikhlas dan sabar. Dengan latar belakang keluaga yang berbeda, tingkah laku anak yang berbeda dan juga segi ekonomi yang berbeda pula, saya tetap merasa senang berada di sekitar mereka., mungkin bukan hanya saya saja yang berpikiran seperti itu, tapi juga semua pengajar/ gugu-guru yang ada di manapun akan berbuat seperti itu, baik itu pengajar Sekolah dasar (SD), Sekolah menengah pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), juga Perguruan Tinggi (PT) dan lain sebagainya.
Tepatnya mulai tanggal 10 juni 2008, saya mulai mengajar di Taman Kanak-kanak (TK). Dengan semangat saya menjalani semuanya. Hingga suatu saat ibu Kepala Sekolah memberi kepercayaan kepada saya untuk memegang salah satu kelas.
Murid yang saya pegang ada 25 orang siswa/i, l5 orang siswi dan 10 orang siswa. Didalam kelas tersebut ada salah satu siswa namanya Adit, dia anaknya cerdas namun sulit dikendalikan dalam artian tidak mau mengerjakan tugas yang di berikan pada saat berada di kelas, dan selalu mengganggu temannya yang lain pada saat proses belajar berlangsung, tapi dalam hal lain dia mudah menerima, cepat mengerti pada materi-materi yang diberikan dan pada saat evaluasi di akhir pun dia dapat menjawab/mengerjakannya dengan baik.
Suatu ketika Adit tidak masuk sekolah, dalam hati saya bicara “untunglah, Adit tidak sekolah jadi tidak ada lagi anak yang susah di atur, saya bisa mengajar dengan tenang” ,hari kedua, ketiga, keempat dan hampir seminggu Adit tidak kunjung juga hadir di sekolah, saya mulai penasaran dan menanyakan kabarnya pada temannya yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan Adit, keesokan harinya saya tanyakan lagi, ternyata adit sakit dan dirawat di rumah sakit sudah hampir seminggu. Adit terkena Demam berdarah (DBD), dua hari kemudian ada kabar yang sangat mengagetkan, antara percaya dan tidak saya mendengar kabar bahwa Adit telah meninggal, dengan tanpa sadar saya menitikkan air mata merasa berdosa karena secara tidak langsung saya telah mensyukuri atas ketidak hadiran Adit di sekolah. Begitu di sayangkan anak cerdas yang memiliki kenakalan yang wajar, kini harus pergi dan tak kembali.
Saya menyesali dengan apa yang telah saya lakukan, hingga sampai sekarang pun saya masih merasa bersalah akan hal itu. Hanya kepada Allah saya mohon ampunan atas ketidak sabaran dan kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, karena atas rahmat dan kehendak-Nya saya bisa mengajar dan mendapat pekerjan hingga sampai saat ini.
Kini saya sadar bahwa hidup adalah tantangan dan tantangan itu harus di hadapi dan dijalani dengan rasa sabar, ikhlas, dan tawakal.
Mudah-mudahan pengalaman yang saya tulis dalam “ KISAH KU “ tidak terjadi pada rekan-rekan pengajar lainnya (amin). Terakhir dari saya tetap bersabar dan ikhlas, menjadi seorang pengajar. Khususnya pengajar/pendidik Anak Usia Dini, dan tidak menutup kemungkinan bagi seluruh pengajar atau guru-guru yang lainnya. Jazakillah…
Jumat, 23 Oktober 2009
Langganan:
Postingan (Atom)