Pengertian kesadaran beragama dalam tulisan ini meliputi rasa keagamaan, pengalaman ke-Tuhanan, keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam system mental dari kepribadian.
Kematangan kepribadian yang dilandasi oleh kehidupan agama akan menunjukan kematangan sikap dalam menghadapi berbagai masalah, norma, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Pada waktu lahir, anak belum beragama. Ia baru memiliki potensi atau fitrah untuk berkembang menjadi manusia beragama. Bayi belum mempunyai kesadaran beragama, tetapi telah memiliki potensi kejiwaan dan dasar-dasar kehidupan berTuhan.
Penanaman kesadaran beragama kepada si anak yang berhubungan pengalaman ke-Tuhanan hendaknya menekankan pada pemuasan kebutuhan efektif.
Dalam rasa kesendiriannya, si remaja memerlukan kawan setia atau pribadi yang mampu menampung keluhan-keluhannya, melindungi, membimbing, mendorong dan memberi petunjuk jalan yang dapat mengenbangkan kepribadiannya. Pribadi yang demikian sempurna itu sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berkembangnya kemampuan berfikir secara abstrak, si remaja mampu pula menerima dan memahami ajran agama yang berhubungan dengan masalah gaib, abstrk dan rohaniah, seperti kehidupan alam kubur, hari kebangkitan, sorga, neraka, bidadari, malaikat, jin, syetan dan sebagainya.
Rabu, 16 Desember 2009
Tugas_3_hari ke-1
Tugas _3_ hari ke-1
Sekolah Tinggi Agama Islam, menerima mahasiswa dan mahasiswinya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah (MA) saja, melainkan menerima pula lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA) atau sederajat lainnya. Dalam bidang matakuliah yang di pelajari atau diajarkan bukan hanya matakuliah bidang keagamaan saja tapi bidang umum pun ada, matakuliah bidang umum sudah tidak asing lagi dijumpai dan dipelajari, namun ada sedikit penambahan yang lebih menditail atau komplit, salah satu matakuliah dalam bidang agama ditemukan matakuliah “Bahasa Arab”. Dimana, pelajaran tersebut sangat membingungkan bagi mahasiswa yang dasarnya lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA). Seakan-akan pelajaran tersebut sangat asing dan baru di pelajari di sana.
Dibanding dengan matakuliah yang lain, hanya matakuliah bahasa arablah yang menurut saya paling sulit dipelajari. Karena di Sekolah Menengah Umum tidak dipelajari secara khusus, dan memang tidak ada dalam kurikulumnya. Ada salah satu perkataan bijak bahwa:
“Dimanapun kita belajar dan apapun yang kita pelajari, kita harus menghadipinya dan mendalaminya dengan serius dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya”. (mulyawan S Nugraha)
Menurut saya ungkapan di atas cukup bijak dan rasional, dimana ungkapan tersebut mengajak atau menyerukan kepada kita, supaya kita lebih berani, bisa, dan tidak takut menjalani, juga menghadapi hidup atau menikmati keadaan yang sedang dialami dan dijalani saat ini.
Ada beberapa pemecahan atau solusi yang bisa di ambil dari permasalahan diatas (sulitnya mempelajari matakuliah bahasa arab), yaitu salah satunya dengan mencari jam tambahan, les / prifat matakuliah tersebut, atau dengan tidak ada rasa malu-malu untuk selalu bertanya apabila ada sesuatu yang kurang dipahami dan mengerti. Dari sebagian mahasiswa yang ada di Sekolah Tinggi Agama Islam, dapat dibandingkan bahwa, bagaimana pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) dan mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMU). Berdasarkan surpey dilapangan bahwa mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) lebih unggul di banding mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengan Umum (SMA).
Kenapa mahasiswa lulusan dari Madrasah Aliah lebih unggul dari mahasiswa yang lulusan dari Sekolah Menengah Umum? Karena di sekolah Madrasah Aliah siswanya diajarkan atau mempelajari pelajaran tentang bahasa arab, sedangkan di Sekolah Menengan Umum tidak, di sekolah Madrasah Aliah pelajaran bahasa arab terdapat dalam kurikulum pendidikannya, sedangkan di Sekolah Menengah Umum tidak, dan masih banyak lagi faktor-faktor lainya.
Pertanyaan mendasar, mengapa Sekolah Tinggi Agama Islam menerima mahasiswanya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah saja atau jurusan yang sesuai dengan ketentuannya? Ada beberapa pertimbangan yang dapat diambil, salah satunya mungkin karena Sekolah Tinggi tersebut ingin memajukan masyarakatnya dengan pendidikan Agama Islam tanpa harus terpaku pada salah satu ketentuan tertentu, karena kekurangan mahasiswa hingga Sekolah Tinggi tersebut mengambil mahasiswa dan ahasiswinya tidak terbatas dari kalangan dan jurusan apapun, atau karena faktor lain atau tujuan lain seperti: sebagian mahasiswa dan ahasiswinya hanya ingin mengejar title atau gelar saja.
Sekolah Tinggi Agama Islam, menerima mahasiswa dan mahasiswinya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah (MA) saja, melainkan menerima pula lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA) atau sederajat lainnya. Dalam bidang matakuliah yang di pelajari atau diajarkan bukan hanya matakuliah bidang keagamaan saja tapi bidang umum pun ada, matakuliah bidang umum sudah tidak asing lagi dijumpai dan dipelajari, namun ada sedikit penambahan yang lebih menditail atau komplit, salah satu matakuliah dalam bidang agama ditemukan matakuliah “Bahasa Arab”. Dimana, pelajaran tersebut sangat membingungkan bagi mahasiswa yang dasarnya lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMA). Seakan-akan pelajaran tersebut sangat asing dan baru di pelajari di sana.
Dibanding dengan matakuliah yang lain, hanya matakuliah bahasa arablah yang menurut saya paling sulit dipelajari. Karena di Sekolah Menengah Umum tidak dipelajari secara khusus, dan memang tidak ada dalam kurikulumnya. Ada salah satu perkataan bijak bahwa:
“Dimanapun kita belajar dan apapun yang kita pelajari, kita harus menghadipinya dan mendalaminya dengan serius dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya”. (mulyawan S Nugraha)
Menurut saya ungkapan di atas cukup bijak dan rasional, dimana ungkapan tersebut mengajak atau menyerukan kepada kita, supaya kita lebih berani, bisa, dan tidak takut menjalani, juga menghadapi hidup atau menikmati keadaan yang sedang dialami dan dijalani saat ini.
Ada beberapa pemecahan atau solusi yang bisa di ambil dari permasalahan diatas (sulitnya mempelajari matakuliah bahasa arab), yaitu salah satunya dengan mencari jam tambahan, les / prifat matakuliah tersebut, atau dengan tidak ada rasa malu-malu untuk selalu bertanya apabila ada sesuatu yang kurang dipahami dan mengerti. Dari sebagian mahasiswa yang ada di Sekolah Tinggi Agama Islam, dapat dibandingkan bahwa, bagaimana pemahaman matakuliah bahasa arab antara mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) dan mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMU). Berdasarkan surpey dilapangan bahwa mahasiswa yang lulusan dari Madrasah Aliah (MA) lebih unggul di banding mahasiswa lulusan dari Sekolah Menengan Umum (SMA).
Kenapa mahasiswa lulusan dari Madrasah Aliah lebih unggul dari mahasiswa yang lulusan dari Sekolah Menengah Umum? Karena di sekolah Madrasah Aliah siswanya diajarkan atau mempelajari pelajaran tentang bahasa arab, sedangkan di Sekolah Menengan Umum tidak, di sekolah Madrasah Aliah pelajaran bahasa arab terdapat dalam kurikulum pendidikannya, sedangkan di Sekolah Menengah Umum tidak, dan masih banyak lagi faktor-faktor lainya.
Pertanyaan mendasar, mengapa Sekolah Tinggi Agama Islam menerima mahasiswanya tidak hanya lulusan dari Madrasah Aliah saja atau jurusan yang sesuai dengan ketentuannya? Ada beberapa pertimbangan yang dapat diambil, salah satunya mungkin karena Sekolah Tinggi tersebut ingin memajukan masyarakatnya dengan pendidikan Agama Islam tanpa harus terpaku pada salah satu ketentuan tertentu, karena kekurangan mahasiswa hingga Sekolah Tinggi tersebut mengambil mahasiswa dan ahasiswinya tidak terbatas dari kalangan dan jurusan apapun, atau karena faktor lain atau tujuan lain seperti: sebagian mahasiswa dan ahasiswinya hanya ingin mengejar title atau gelar saja.
Langganan:
Postingan (Atom)